Dalem, Sakti. Cimanggung, desa Tertua di Kecamatan Cimanggung, menurut berbagai sumber tidak bisa dilepaskan dari sejarah Sumedang. Bahkan ketika Belanda memerintahkan Dalem Surianagara bergelar Pangeran Kornel membangun Jalan Raya Pos, pada tahun 1808.
Seperti diketahui, pembuatan Jalan Cadas Pangeran yang dimulai tahun 1811 tersebut melibatkan seluruh rakyat Sumedang dan dipimpin langsung oleh Pangeran Kornel.
Salah satu sumber sejarah menerangkan pada saat pembobokan cadas, hampir separuh penduduk Cimanggung meninggalkan sanak keluarganya untuk memenuhi perintah Dalem Sumedang. Dan dengan dipimpin Surya Dilaga, seorang keturunan Dalem Parakanmuncang pengabdi Pangeran Kornel, rakyat bahu-membahu membangun jalan.
Pada saat pembobokan cadas berlangsung, rakyat merasa pesimis karena sebuah bongkahan cadas tidak berhasil dihancurkan. Pangeran Kornel mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar mengirimkan Tentara Zeni lengkap dengan senjata penghancur batu atau cadas. Puluhan Tentara Zeni membantu pembobokan cadas dengan menggunakan sarana modern, namun bongkahan cadas tersebut tetap tidak berhasil dihancurkan.
Tokoh masyarakat Cimanggung atau Masta Praja, menyimak keadaan yang memprihatinkan tersebut. Secara diam-diam Masta Praja meninggalkan Gunung Cadas untuk meminta bantuan kepada kakak kandungnya yang bernama Ki Jangga Praja, yaitu seorang tokoh spiritual (kebatinan) di Kampung Bembem.
Ki Jangga Praja bersedia membantu kesulitan rakyat di Gunung Cadas. Saat itu Ki Jangga Praja bersama Masta Praja berangkat menuju Gunung Cadas. Kehadiran tokoh spriritual terkenal itu disambut baik oleh rakyat di sana. Kehadirannya bahkan sempat membuat Tentara Zeni Belanda terheran-heran atas sikap rakyat yang demikian menghormati Ki Jangga.
Pada malam hari Surya Dilaga dan Ki Janga melakukan spiritual untuk menghancurkan bongkahan cadas. Dengan menyatukan kekuatan batin, kedua tokoh spiritual tersebut menghadirkan suasana menegangkan. Secara tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat di sekitar bongkahan cadas. Sebagian rakyat di sana menyaksikan keajaiban tersebut. Bertambah kaget setelah bongkahan cadas tersebut hancur berkeping-keping tanpa disentuh oleh tangan manusia.
Kejadian tersebut membuat Tentara Zeni Belanda bertambah kaget. Pembobokan gunung cadas tersebut berlangsung selama kurang lebih 3 bulan. Prestasi tersebut telah mengangkat nama baik Pangeran Kornel, sehingga William Daendles yang disalami oleh Pangeran Kornel lewat tangan kirinya semakin menghormati dan tidak berani menekan rakyat Sumedang.
Memasuki tahun 1812, Pangeran Kornel menyatukan dusun-dusun menjadi desa. Didasarkan kepada aspirasi rakyat dan keadaan yang diangap telah memadai, dengan menyatukan dusun-dusun di belahan timur Andalawak (Tanjungsari). Pada masa ini, wilayah administratif Kabupaten Sumedang bertambah luas, terdiri dari 16 Distrik yaitu Daerah Balubur, Andalawak (Tanjungsari sekarang), Depok, Malandang, Conggeang, Darmaraja, Darmawangi, Pawenang, Malangbong, Ciawi, Pagerageung, Rajapolah, Indihiang, Cicariang, dan Singaparna. (Cag)